Bojonegoro — Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Bojonegoro menyampaikan pernyataan sikap atas tragedi meninggalnya seorang driver ojek online (ojol) saat pengamanan aksi buruh di Jakarta. Dalam pernyataannya, PC IPNU Bojonegoro mengecam keras tindakan represif aparat kepolisian yang dinilai telah melukai rasa keadilan rakyat.
Ketua PC IPNU Bojonegoro, Rekan Ahmad Nasiruddin, menegaskan bahwa tindakan brutal aparat tidak hanya menciderai kemanusiaan, tetapi juga merusak demokrasi. “Kami menolak keras tindakan aparat yang melindas rakyat kecil. Terlebih, penangkapan ratusan pelajar dan mahasiswa menjadi preseden buruk bagi demokrasi. Pelajar bukan kriminal, mereka hanya menyuarakan keadilan,” ujarnya.
Sikap PC IPNU Bojonegoro ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Pimpinan Pusat (PP) IPNU, yang menyerukan agar seluruh struktur organisasi menyuarakan penolakan terhadap kekerasan aparat.
PP IPNU sebelumnya telah merumuskan tiga tuntutan utama:
- Mendesak Presiden RI untuk mencopot Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kepala Kepolisian RI.
- Menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam proses hukum kasus tragedi tersebut.
- Menegaskan komitmen pelajar NU untuk terus mengawal demokrasi, supremasi hukum, dan keadilan sosial.
Lebih lanjut, Ketua PC IPNU Bojonegoro menekankan bahwa kekerasan dan kriminalisasi terhadap pelajar hanya akan memperlebar jarak antara rakyat dan aparat. “IPNU Bojonegoro berdiri bersama rakyat. Kami tidak akan tinggal diam ketika pelajar ditangkap dan rakyat dilukai. Keadilan harus ditegakkan,” tegasnya.
Melalui pernyataan ini, PC IPNU Bojonegoro menyerukan agar seluruh pihak menempatkan nilai kemanusiaan di atas segalanya. Aparat negara diminta kembali pada jati dirinya sebagai pelindung rakyat, bukan sebaliknya.
Sebagai penutup, PC IPNU Bojonegoro juga menyampaikan doa untuk almarhum korban serta keluarga yang ditinggalkan. Mereka berharap tragedi ini menjadi momentum koreksi besar agar negara benar-benar berpihak pada rakyat.