Bojonegoro — Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Bojonegoro menyatakan sikap resmi menanggapi tragedi dalam aksi demonstrasi di DPR RI yang berujung pada kekerasan aparat kepolisian hingga menelan korban jiwa seorang driver ojek online.
Dalam pernyataannya, PC IPPNU Bojonegoro menilai kejadian ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan cermin dari rapuhnya tata kelola keamanan dan keadilan sosial di negeri ini. “Peristiwa tragis ini menyentak kesadaran kita akan pentingnya keadilan, keamanan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia,” demikian bunyi pernyataan resmi.
PC IPPNU Bojonegoro menegaskan, dalam kondisi seperti ini peran pelajar sangat penting sebagai agen perubahan yang mampu menanamkan nilai keadilan, toleransi, dan perdamaian, sekaligus menjadi penghubung aspirasi masyarakat dengan pemerintah. Melalui gerakan sosial-edukatif, pelajar diharapkan mampu menghadirkan solusi yang konstruktif, bukan sekadar menjadi penonton.
Lebih lanjut, PC IPPNU Bojonegoro juga menyampaikan refleksi kritis: Ketika aparat berubah menjadi algojo, siapa yang benar-benar melindungi rakyat? Ketika DPR yang katanya wakil rakyat tak lagi bersuara, siapa yang menjaga kepentingan bangsa? Dan ketika suara rakyat dibungkam, luka itu bukan hanya milik korban, tetapi juga milik kebangsaan kita.
Demokrasi, ditegaskan PC IPPNU Bojonegoro, hanya bisa hidup apabila pelajar dan masyarakat diberi ruang untuk berpendapat tanpa intimidasi. Sejarah mencatat bahwa suara yang berani berdiri adalah penopang bangsa.
Selain itu, PC IPPNU Bojonegoro juga menambahkan sikap bahwa mereka mewakili seluruh lapisan pelajar putri, khususnya dari kalangan Nahdlatul Ulama, dalam merespons tragedi ini. “Kami sepenuhnya setuju dengan PW IPPNU Jawa Timur bahwa #PelajarJugaSadar. Sadar akan apa? Sadar akan segala permasalahan yang terjadi di Republik ini. Narasi yang melarang pelajar untuk ikut menyuarakan pendapat adalah keliru. Karena kami percaya, bahwa pelajar, khususnya pelajar putri, juga memiliki hak yang sama dengan orang dewasa: hak demokrasi, hak menyuarakan pendapat, dan hak untuk ikut serta dalam aksi memperjuangkan keadilan. Kami pelajar putri NU, dan kami juga sadar,” tegas pernyataan tersebut.
Sementara itu, Ketua PC IPPNU Bojonegoro, Agil Mutiara Nurjanah, menekankan bahwa kader IPPNU tidak hanya dituntut untuk belajar, tetapi juga melek isu sosial. “Kejadian kemarin menjadi pengingat bahwa suara pelajar tak boleh dipinggirkan. Namun sebagai banom NU, kita juga harus meneladani seruan PBNU: menyampaikan aspirasi dengan tertib, menjaga persatuan, serta menghindari provokasi dan anarkisme. Pelajar kritis iya, tapi tetap dengan akhlak ala nahdliyyin,” ujarnya.
Agil juga mengajak seluruh elemen pelajar untuk memperkuat nilai kemanusiaan dan solidaritas. “Mari bersama, di manapun kita berada, menengadahkan doa untuk demokrasi dan keadilan, agar negeri ini kembali manusiawi,” pungkasnya.