BOJONEGORO – Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Bojonegoro resmi meluncurkan hijab khas IPPNU Bojonegoro dalam rangkaian kegiatan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) II Tahun 2026 yang berlangsung di Ruang Paripurna DPRD Kabupaten Bojonegoro, Minggu (07/06/2026).

Launching hijab tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam Rakercab II yang mengusung semangat penguatan identitas kader sekaligus pengembangan potensi organisasi berbasis kearifan lokal. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro Abdullah Umar, Sekretaris Daerah Kabupaten Bojonegoro Edi Susanto, Anggota DPRD Bojonegoro Fraksi PKB Miftahul Huda, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro Sholihul Hadi, serta jajaran pengurus dan kader IPNU-IPPNU Bojonegoro.

Hijab khas IPPNU Bojonegoro hadir dengan desain yang mengangkat kekayaan budaya daerah. Setiap motif yang tertuang di dalamnya memiliki filosofi mendalam yang merepresentasikan identitas kader perempuan Nahdlatul Ulama di Bojonegoro.

Motif tenggul menjadi simbol kebesaran budaya daerah yang mengingatkan kader IPPNU agar tetap berpegang pada kearifan lokal di tengah perkembangan zaman. Daun jati melambangkan keteguhan dan kekuatan karakter, sebagaimana pohon jati yang tumbuh kokoh dan memberikan manfaat. Sementara itu, bunga tembakau menggambarkan perjuangan dan proses panjang kehidupan masyarakat Bojonegoro yang sarat dengan nilai kesabaran dan ketekunan.

Tulisan “IPPNU Bojonegoro” yang menghiasi desain hijab menjadi simbol identitas, loyalitas, serta kebanggaan kader terhadap organisasi dan daerahnya. Perpaduan warna biru mencerminkan intelektualitas, loyalitas, dan semangat pelajar perempuan Nahdlatul Ulama, sedangkan warna abu-abu melambangkan keteduhan, kedewasaan, serta keseimbangan dalam bersikap.

Ketua PC IPPNU Bojonegoro, Rekanita Agil Mutiara, menjelaskan bahwa hijab ini tidak hanya dirancang sebagai atribut organisasi, tetapi juga sebagai media untuk memperkuat identitas kader sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi organisasi.

“Hijab ini kami launching sebagai salah satu atribut organisasi yang nantinya akan disebarluaskan kepada seluruh kader IPPNU mulai dari tingkat cabang, komisariat, anak cabang, hingga ranting. Ke depan, cita-cita kami tidak hanya menghadirkan hijab khas IPPNU Bojonegoro, tetapi juga mengembangkan produk hijab daily yang dapat digunakan oleh masyarakat luas,” ujarnya.

Untuk tahap awal, pemesanan hijab akan dilakukan melalui sistem pre-order (PO) sebagaimana atribut organisasi lainnya. Namun, hasil pembahasan Rakercab II juga menyepakati perluasan pemasaran melalui berbagai platform digital dan marketplace.

“Selain menggunakan sistem PO, kami juga berencana memasarkan hijab ini melalui marketplace seperti TikTok Shop dan platform digital lainnya. Harapannya, langkah ini dapat menjadi sarana pemberdayaan kader yang memiliki minat dan potensi di bidang pemasaran digital maupun live streaming,” tambahnya.

Agil mengungkapkan bahwa peluncuran hijab tersebut mendapatkan respons yang sangat positif dari para kader. Antusiasme yang tinggi terlihat sejak pertama kali desain diperkenalkan kepada peserta Rakercab.

“Alhamdulillah respons teman-teman sangat baik dan antusiasmenya luar biasa. Selama ini belum banyak hijab IPPNU yang mengkolaborasikan unsur budaya lokal daerah dalam desainnya. Selain itu, kami juga berusaha menghadirkan produk dengan harga yang tetap ramah di kantong pelajar,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia berharap keberadaan hijab khas IPPNU Bojonegoro tidak hanya menjadi identitas visual organisasi, tetapi juga mampu menjadi peluang pengembangan usaha kader melalui Lembaga Ekonomi dan Kreatif (LEK) IPPNU.

“Harapan kami, hijab ini tidak hanya menjadi atribut dan citra diri IPPNU, tetapi juga dapat menjadi peluang bagi teman-teman LEK untuk mengembangkan kemandirian organisasi melalui program-program ekonomi kreatif yang dikelola kader,” pungkasnya.

Melalui peluncuran hijab khas ini, PC IPPNU Bojonegoro berharap dapat menghadirkan inovasi yang memadukan identitas organisasi, nilai-nilai budaya lokal, dan semangat pemberdayaan kader. Hijab tersebut menjadi simbol perempuan pelajar Nahdlatul Ulama yang anggun, berilmu, berbudaya, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *