aswaja nu center ngasem
Bagikan ke

IIBO – Kitab Al-Muqtathofat karangan K.H. Marzuqi Mustamar, Ketua Tanfidziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa timur dikaji langsung oleh pengarangnya dalam kegiata Ngaji Bareng Ijazahan Kitab Al-Muqtathofat yang diselenggarakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Ngasem pada Rabu, (1/12/2021) di gedung MWC NU Ngasem. Kegiatan ini merupakan rangkaian pelantikan Pengurus Aswaja NU Center Kecamatan Ngasem masa khidmat 2021-2026 sekaligus launching ATM NU di Kecamatan Ngasem.

Dalam sambutannya K. Nailin fauz Misbah mengatakan, dengan adanya Dauroh Aswaja , Aswaja NU Center Kecamatan Ngasem berupaya memantapkan dan mengemas materi Ahlussunnah wal Jama’ah lebih sistematis. Forum ini juga dimaksdukan untuk mengkaji dan mendalami ilmu Ahlu Sunnah wal Jamaah secara baik dan benar.

“dengan demikian, kita bisa membentengi daerah yang memungkinkan masuknya aliran radikal. Selain itu, agar pelajar NU tidak terpengaruh oleh budaya-budaya lain di luar NU yang bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” tuturnya.

Sementara itu, perakilan dari PCNU Bojonegoro, KH Abdullah Hilmi Al Jumadi menjelaskan, Aswaja Center menjadi sayap di NU. Kehadiran NU pada hakikatnya untuk menguatkan serta menyebarkan akidah Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) di Nusantara sebagai benteng warga NU untuk menepis berbagai paham dan aliran yang tidak sesuai dengan Aswaja An-Nahdliyah.

“Kita sebagai umat Islam perlu memahami apa itu Ahlussunnah wal Jama’ah agar tahu ciri-ciri aqidah yang benar sehingga dapat membentengi diri dari aqidah-aqidah yang menyimpang dan akhir-akhir ini banyak bermunculan,” jelasnya.

Secara sederhana, ciri-ciri aqidah yang benar adalah seorang yang beragama Islam, berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah, mengikuti Asy’ariyah atau Maturidiyah, mengikuti ulama Tasawuf (Shufiyyah), dan mengikuti salah satu Madzhab Fiqih. Kelima ciri identitas itu harus ada dalam diri seseorang dan tidak boleh ada satu pun yang lepas darinya agar dapat mengikuti aqidah yang benar.

Dalam punjak acara, yakni Ngaji Bareng Kitab Al-Muqtathofat, Kyai Marzuki menyampaikan Hadits Riwayat Muslim dari Abi Umamah yang artinya: Bacalah al-Qur’an karena sesungguhnya al-Qur’an akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada para pemiliknya. Dalam hadist ini, Nabi SAW menyuruh umatnya untuk membaca Al-Quran dan tidak memerintahkan untuk menafsirkan dan menerjemahkan.
“Maka membaca itu sendiri merupakan ibadah, yang pembacanya akan diberi pahala dan berhak mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW di hari kiamat,” jelasnya.

Sudah diketahui pula, lanjut Kyai Marzuqi, dalam agama islam siapa yang mulai belajar membaca Al-Qur’an meskipun tidak mengetahui tafsirnya, bahkan sekalipun kesulitan dengan membacanya saja akan mendapat pahala. Ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an bukanlah ibadah yang sia-sia.

“Apalagi akhir-akhir ini banyak yang membid’ahkan dan mengharamkan semua amaliah kita, baik melalui media sosial maupun ustadz-ustadz yang hanya berpedoman pada Alquran dan hadis, sedangkan kita tahu, bahwa yang menjadi dasar Islam tidak hanya itu, tapi juga ada Ijma’ dan Qiyas,” pungkasnya.

Pewarta : Reni Febrianti
Editor : LulukNR

Leave a Reply

Your email address will not be published.

17 − four =