Bagikan ke

IIBO – Sejak dulu Nahdlatul Ulama (NU) identik dengan tulisan. Bahkan pendiri NU sendiri, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari adalah seorang penulis masyhur yang mengarang banyak sekali kitab. Selain Kiai Hasyim Asy’ari, banyak pendahulu NU yang juga menjadi pegiat literasi.

Hal tersebut disampaikan oleh Wahyu Riskiawan, penulis buku NU Bojonegoro dalam kegiatan Seminar Litera Aswaja yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU ) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Aula PCNU Bojonegoro, Sabtu (23/10/2021).

Kegiatan yang mengusung tema ‘Membangkitkan Atmosfer Menulis Santri’ ini mendapat respon positif dari pemateri yang juga merupakan periset partikelir tersebut. Menurut laki-laki yang akrab disapa Riski itu, sejak dulu NU memang sudah lekat dengan tulisan. Hanya saja ketika orde baru, para intelektual NU tidak lagi menggiatkan amaliah ini.

“Makanya sekarang adalah saat yang tepat untuk menjadikan zaman cahaya dengan aswaja mau menulis, kalau bukan zaman kita, lalu kapan lagi NU akan menulis,” tuturnya.

Lebih lanjut, Riski ketika ia menulis buku NU Bojonegoro, sebenarnya untuk menjadi muqodimah agar dilanjutkan oleh kader-kader IPNU IPPNU. Itulah kenapa, buku tersebut tidak setebal buku-buku lainnya.

“Ini adalah upaya kecil agar temen-temen mau menulis, atau paling tidak mengerti sejarah,” lanjutnya.

Selain itu, menurut Riski, salah satu alasan pentingnya kesadaran menulis dalam ranah Aswaja ini adalah semakin maraknya pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan artian sebenarnya. Ada banyak golongan di luar sana yang memanfaatkan kemampuan literasi untuk merebut istilah, sehingga istilah tersebut mengalami pergeseran makna.

“Contoh ketika kita hendak mengetikan kata salaf di google, yang muncul bukan tulisan kita, justru dari mereka yang berbeda paham dengan kita,” terangnya.

Problem semacam itu, lanjutnya, menjadi ranah IPNU IPPNU untuk merekonstruksi istilah-istilah yang sudah mengalami perubahan. Dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menulis ulama yang berada di sekitar kita. Menulis tokoh, tidak harus menonjolkan sisi keramat seseorang itu, tapi penting juga menunjukkan sisi kemanusiaannya. Sehingga beliau-beliau ini tidak hanya dikenal berjasa sebab karomahnya saja, tapi hal-hal lain yang berkaitan dengan kemanusiaan.

“Yang seperti itu harus bisa kita tanamkan, sebab orang-orang modern akan menganggap itu sebagai sesuatu yang tidak realistis, maka kita harus bisa memberikan subtansi secara ilmiah agar bisa diterima” jelasnya.

Diakhir diskusi, Riski menyampaikan istilah Latin “Karya itu berumur panjang, sementara kita berumur pendek. Jika tidak bisa berkarya, cukup panjangkan umur dengan menulis kiprah orang lainnya”.

Pewarta : LulukNR

Leave a Reply

Your email address will not be published.

five × 2 =