Bagikan ke

Penamaan suatu tempat selalu memiliki sejarahnya masing-masing. Tak terkecuali tiga dukuh yang menjadi komponen di Desa Tanjungharjo, Kapas. Tiga dukuh itu adalah Karang, Tandingoro, dan Ngitik.

Sesuai dengan asalnya, penamaan tiga dukuh tersebut diambil dari bahasa jawa; ‘Karang’ yang berarti ‘mengarang atau menyusun (strategi perang)’, sementara ‘Tandingoro’ merupakan gabungan kata, atau dalam bahasa jawa dinamakan kerata basa dari kata ‘Tanding Ing Oro-oro’ yang artinya ‘berperang di tanah lahan tandus (yang sekarang menjadi subur)’, dan terakhir ‘Ngitik atau Nitik’ yang dimaksudkan ‘memeriksa kembali keadaan setelah peperangan’. Ketiga makna itu menjadi rangkaian peristiwa yang kemudian oleh Bupati Bojonegoro, Raden Sumantri (Raden Adipati Kusumo Adi Negoro) digabungkan dalam sebuah nama desa, yakni ‘Tanjungharjo’ dan artinya desa berwibawa dalam kemakmuran.

Karang yang berarti tempat mengarang atau menyusun strategi penyerangan.

Tandingoro berarti Tanding Neng Oro-oro atau berperang dilahan tandus yang luas yang sekarang merupakan lahan pertanian yang subur. Kemudian Ngitik atau Nitik (Jawa) berarti memeriksa kembali keadaan setelah peperangan. menggabungkan dari ketiga Dukuh tersebut menjadi Desa Tanjungharjo yang artinya Desa yang berwibawa dalam kemakmuran, desa yang kuat, dan sejahtera. Masyarakat di desa tersebut komoditas pertanian

Bergeser dari pemaknaan nama, mata pencaharian masyarakat Desa Tanjungharjo tidak jauh berbeda dengan masyarakat agraris pada umumnya. Pertanian, utamanya tanaman padi dan palawija. Karena memiliki komoditas pertanian, masyarakat Desa Tanjungharjo juga lekat dengan adat istiadatnya yang dikenal dengan sebutan Gumbregan dan Nyadran. Tradisi ini tidak jauh berbeda dengan Sedekah Bumi, tujuannya tidak lain untuk memohon keselamatan dan keberkahan hidup. Selain itu sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen dan segala nikmat yang telah diberikan.

Sedekah bumi disebut juga dengan Tradisi Manganan,  berasal dari Jawa, mangan yang berarti makan. Dalam pelaksanaan Tradisi Manganan, yang pertama kali dilakukan masyarakat Desa Tanjungharjo adalah membersihkan seluruh halaman Sendang dan bagian dalam sendang dengan cara menguras sumur dan mencabuti rumput juga ranting pohon yang jatuh. Pembersihan dilakukan secara gotong royong sehingga proses pelaksanaannya cepat selesai. Pembersihan tempat ini dilakukan agar prosesi Manganan berjalan dengan nyaman dan hikmat.

Tradisi Manganan ini juga menyimpan pesan moral yang sangat penting, tidak lain,  mempererat persaudaraan antar masyarakat. Dalam momentum ini, masyarakat berkumpul dalam satu tempat dan tujuan yang sama. Sehingga, tercipta system sosialisasi yang rekat dan rukun. Pelajaran lain yang dapat dipetik dalam pelaksanaan momen ini adalah ketika pembagian makanan. Berbagi dan menerima apapun yang diterima menjadi pelajaran penting untuk saling menghargai sesama akan kemampuan setiap orang berbeda-beda.

Ditulis oleh Sofia Amrina Rosada
Penulis merupakan Peserta Teraktif Kelas Menulis Essai Populer 
L. Pers Penerbitan dan Jarkominfo
PC IPNU IPPNU Bojonegoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 5 =